Sepeda butut dengan suara khas lewat di jalan di depan rumah. Seorang anak perempuan kelas tiga sekolah dasar berlarian mendekati jendela rumah agar bisa melihat siapa yang lewat. Ia memang senang melihat lalu lalang di jalanan depan rumah.
“Yah, siapa itu?” Tanya anak pada ayahnya yang duduk di kursi tamu.
Sang ayah mendekat di jendela. “O, itu Pak Tani!” Jawab ayah.
“Itu siapa lagi ayah?” Tanya sang anak lagi begitu lewat seorang bermobil dengan pakaian dinasnya.
“Kelihatannya Pak Pejabat!” Jawab ayahnya agak ragu.
“Kenapa kok kelihatannya, ayah?” Sang anak penasaran.
“Soalnya dia hanya pakai baju pejabat, tapi tidak jelas apa yang dilakukan di kantornya! Untuk rakyat atau untuk dirinya sendiri.”
Si anak geleng-geleng kepala. “Itu siapa ayah?”
Seseorang dengan atribut khusus di wajah dan gerakan yang agak beda.
“Kelihatannya seorang ustadz!” Jawab ayah.
“Kok hanya kelihatannya lagi, yah!”
“Sebab, ayah baru bisa melihat dari tanda di baju dan format wajahnya yang seperti seorang ustadz. Tapi tidak jelas pula, untuk siapa dia seperti itu. Untuk umat atau untuk kepentingan dirinya sendiri!”
Sang anak pun geleng-geleng kepala lagi. “Kalau begitu, siapa saja bisa seperti dia! Seperti yang terlihat!”
“Iya. Seperti artis yang akting untuk film. Ia bisa berlagak menjadi apa saja menurut kehendak hatinya. Yang penting dapat kedudukan dan uang!”
(Ali Shodiqin)
Ini situs CERPEN HEBAT. Sudah cerita pendek, Hemat, hebat lagi! Dari yang sedikit ini diharapkan bisa memberi manfaat kepada semua pembaca.CERPEN HEMAT CERPEN HEBAT, CERPEN HEBAT CERPEN HEMAT, Benar-Benar CERPEN HEBAT.
Senin, 30 Mei 2011
Doa bertaraf internasional
Seorang mahasiswa mengajukan proposal kegiatan hiburan untuk rakyat kepada sebuah bank. Oleh kepala bank ditolak karena tidak ada anggaran music, yang ada anggaran social.
Mahasiswa tetap mengejar bantuan, tidak lagi kepada bank tapi kepada pribadi kepala kantor.
“Saya tidak lagi memohon bantuan kepada bank bapak. Tapi saya mohon doa restu kepada pribadi bapak!” kata Mahasiswa akhirnya.
“Ya, saya doakan semoga kegiatan anda berhasil sukses!” kata kepala bank.
“Tapi pak. Doa bapak harus berlaku internasional,” kata mahasiswa agak gusar.
“Apa maksudnya?”
“Doa bapak harus ada biayanya. Kalau tidak keluar uangnya percuma saja, karena tidak akan sampai kepada Tuhan,” jelas mahasiswa percaya diri.
“Begitu ya. Baik, saya akan mengeluarkan uang untuk menyumbang!” kata kepala bank sambil mengeluarkan uang seratus ribuan sebanyak lima lembar.
“Terima kasih pak,” mahasiswa senang sekali.
“Ya sama-sama. Saya dulu ketika masih mahasiswa juga seperti anda ini!” kata kepala bank sambil tersenyum. (Ali Shodiqin)
Mahasiswa tetap mengejar bantuan, tidak lagi kepada bank tapi kepada pribadi kepala kantor.
“Saya tidak lagi memohon bantuan kepada bank bapak. Tapi saya mohon doa restu kepada pribadi bapak!” kata Mahasiswa akhirnya.
“Ya, saya doakan semoga kegiatan anda berhasil sukses!” kata kepala bank.
“Tapi pak. Doa bapak harus berlaku internasional,” kata mahasiswa agak gusar.
“Apa maksudnya?”
“Doa bapak harus ada biayanya. Kalau tidak keluar uangnya percuma saja, karena tidak akan sampai kepada Tuhan,” jelas mahasiswa percaya diri.
“Begitu ya. Baik, saya akan mengeluarkan uang untuk menyumbang!” kata kepala bank sambil mengeluarkan uang seratus ribuan sebanyak lima lembar.
“Terima kasih pak,” mahasiswa senang sekali.
“Ya sama-sama. Saya dulu ketika masih mahasiswa juga seperti anda ini!” kata kepala bank sambil tersenyum. (Ali Shodiqin)
Bermimpilah !
AKU terpaku di kursi mendengarkan penjelasannya. Pada Senin tanggal Sembilan Mei ini, teman yang baik sekaligus kepala kantor saya, kembali menjelaskan bahwa usaha air minum milik sang paman yang hendak dikendalikannya akan menuai sukses. Ia memperkirakan, jika mampu melayani kebutuhan air minum di dalam kota, itu sudah cukup menjadi pertanda bahwa usahanya akan sukses.
SIANG bolong begini masih suka bermimpi kosong? Atau benar mimpi yang berdasarkan perhitungan realistis?
“O, ini realistis! Ada hitungannya. Saya sangat memahami kinerjanya!” Ia menegaskan penuh percaya diri. Sebuah sikap yang ditularkan oleh Pamannya yang saya kenal memiliki mimpi yang luar biasa.
“HMM, memang sukses itu harus diawali dengan mimpi!” Timpalku. Sebelum saya diterima kerja di perusahaan ini saya sempat ditanya mimpiku. Ketika saya mengelak tidak ingin mudah bermimpi, ternyata ia mendesakku agar aku punya mimpi. “Kamu harus punya mimpi!” begitu suaranya kembali terngiang.
“INSYA ALLAH bisa! Bahkan masing-masing manager diberi fasilitas mobil pun Insya Allah bisa!” Katanya makin berapi-api sambil menunjukkan alur rencana kerja yang kira-kira akan dilakukan.
“Jika kita merasakan, sebenarnya apa yang kita alami saat ini adalah karena mimpi-mimpi kita dulu!” Kataku kemudian.
Ia tersenyum membenarkan. Sebagian peristiwa yang terjadi saat ini adalah sebagaimana mimpi-mimpi masa lalu.
“Tapi ini semua baru sebuah rencana. Tapi rencana yang realistis. Soal nanti bisa melaksanakan atau tidak itu saya belum tahu!” Sang manager pun mulai merendah karena takut sombong. Ia paham betul bahwa hanya Allah lah pemegang kendali hidup ini.
“Ya! Semoga bisnis air minum dalam kemasan ini sukses!”
(Ali Shodiqin)
SIANG bolong begini masih suka bermimpi kosong? Atau benar mimpi yang berdasarkan perhitungan realistis?
“O, ini realistis! Ada hitungannya. Saya sangat memahami kinerjanya!” Ia menegaskan penuh percaya diri. Sebuah sikap yang ditularkan oleh Pamannya yang saya kenal memiliki mimpi yang luar biasa.
“HMM, memang sukses itu harus diawali dengan mimpi!” Timpalku. Sebelum saya diterima kerja di perusahaan ini saya sempat ditanya mimpiku. Ketika saya mengelak tidak ingin mudah bermimpi, ternyata ia mendesakku agar aku punya mimpi. “Kamu harus punya mimpi!” begitu suaranya kembali terngiang.
“INSYA ALLAH bisa! Bahkan masing-masing manager diberi fasilitas mobil pun Insya Allah bisa!” Katanya makin berapi-api sambil menunjukkan alur rencana kerja yang kira-kira akan dilakukan.
“Jika kita merasakan, sebenarnya apa yang kita alami saat ini adalah karena mimpi-mimpi kita dulu!” Kataku kemudian.
Ia tersenyum membenarkan. Sebagian peristiwa yang terjadi saat ini adalah sebagaimana mimpi-mimpi masa lalu.
“Tapi ini semua baru sebuah rencana. Tapi rencana yang realistis. Soal nanti bisa melaksanakan atau tidak itu saya belum tahu!” Sang manager pun mulai merendah karena takut sombong. Ia paham betul bahwa hanya Allah lah pemegang kendali hidup ini.
“Ya! Semoga bisnis air minum dalam kemasan ini sukses!”
(Ali Shodiqin)
Minggu, 15 Mei 2011
Politikus Warisan Meneruskan Tradisi
“Pilih kami! Kami akan jujur, peduli dan bersih!” Teriaknya lantang.
Dengan berapi-api ia berorasi di depan khalayak, di depan media elektronik, di depan wartawan surat kabar, bahwa dirinya hendak memberantas korupsi jika kelak terpilih jadi wakil rakyat. Ia akan jujur, akan adil, akan peduli, akan bersih, dll. Ia mewakili ribuan temannya yang serupa namun tak sama. Sekarung amplop berisi uang pun disebarkannya untuk mencapai semuanya dengan dalih mewakili rakyat.
Seorang yang lain, mewakili orang-orang sepertinya, mengeluarkan segepok uang kepada petinggi kabupaten, provinsi maupun pusat, agar diterima jadi PNS, dengan harapan ia akan menata hidupnya dan mengabdi dengan tulus melayani rakyat.
Tak ada eiforia, kegembiraan meluap, sujud syukur spontan di sembarang tempat, manakala diumumkan mereka benar-benar terpilih. Justru tiba-ti ba mereka teringat sebuah nilai uang yang sudah hilang.
“Jika kesempatan ini tidak diambil, tentu orang lain yang mengambilnya!” Sang wakil rakyat dan abdi rakyat itu berbisik. Mereka akhirnya terbawa arus, mewarisi kebobrokan-kebobrokan dan melanjutkan tradisi yang sudah ada. Sebuah tradisi yang tampak benar karena sudah terbiasa dilakukan secara berjamaah dan diketok palu orang yang memiliki semangat keserakahan yang sama. (Ali Shodiqin)
Dengan berapi-api ia berorasi di depan khalayak, di depan media elektronik, di depan wartawan surat kabar, bahwa dirinya hendak memberantas korupsi jika kelak terpilih jadi wakil rakyat. Ia akan jujur, akan adil, akan peduli, akan bersih, dll. Ia mewakili ribuan temannya yang serupa namun tak sama. Sekarung amplop berisi uang pun disebarkannya untuk mencapai semuanya dengan dalih mewakili rakyat.
Seorang yang lain, mewakili orang-orang sepertinya, mengeluarkan segepok uang kepada petinggi kabupaten, provinsi maupun pusat, agar diterima jadi PNS, dengan harapan ia akan menata hidupnya dan mengabdi dengan tulus melayani rakyat.
Tak ada eiforia, kegembiraan meluap, sujud syukur spontan di sembarang tempat, manakala diumumkan mereka benar-benar terpilih. Justru tiba-ti ba mereka teringat sebuah nilai uang yang sudah hilang.
“Jika kesempatan ini tidak diambil, tentu orang lain yang mengambilnya!” Sang wakil rakyat dan abdi rakyat itu berbisik. Mereka akhirnya terbawa arus, mewarisi kebobrokan-kebobrokan dan melanjutkan tradisi yang sudah ada. Sebuah tradisi yang tampak benar karena sudah terbiasa dilakukan secara berjamaah dan diketok palu orang yang memiliki semangat keserakahan yang sama. (Ali Shodiqin)
Jumat, 14 Januari 2011
Guk...!
Guk….! Guk….! Guk….!
Terdengar gonggongan anjing milik seorang kawan. Ia menggonggong disamping tuannya, sementara sang tuan senyum-senyum bangga.
”Apa yang dikatakannya?” Tanyaku seakan melihat sang anjing bicara pada tuannya.
”Ia mengatakan, kau hebat bos!” kata sang kawan.
Aku terkekeh, dugaanku benar. Anjingnya memang bicara pada bosnya, ala anjing tentunya. Sang bos menduga kalau anjingnya yang suka pamer lidah itu memujinya.
”Apa yang sering dikatakannya?” Tanyaku seakan penasaran.
Bagaimanapun aku tidak akan percaya akan terjemah tingkah anjing, kecuali jika disuruh berbuat yang nyata. Seperti menjaga rumah dan menakut-nakuti orang lewat.
”Anjingku ini bikin aku bangga. Ia selalu tampak senang dengan segala tindakanku!” Sang kawan menjelaskan lebih gamblang.
”Kau begitu percaya pada anjingmu?” Selidikku.
“Tentu saja. Aku nyaris tidak perlu minta pendapat orang lain, jika anjingku tampak setuju dengan tindakanku.”
“...........?????”
(Ali Shodiqin)
Terdengar gonggongan anjing milik seorang kawan. Ia menggonggong disamping tuannya, sementara sang tuan senyum-senyum bangga.
”Apa yang dikatakannya?” Tanyaku seakan melihat sang anjing bicara pada tuannya.
”Ia mengatakan, kau hebat bos!” kata sang kawan.
Aku terkekeh, dugaanku benar. Anjingnya memang bicara pada bosnya, ala anjing tentunya. Sang bos menduga kalau anjingnya yang suka pamer lidah itu memujinya.
”Apa yang sering dikatakannya?” Tanyaku seakan penasaran.
Bagaimanapun aku tidak akan percaya akan terjemah tingkah anjing, kecuali jika disuruh berbuat yang nyata. Seperti menjaga rumah dan menakut-nakuti orang lewat.
”Anjingku ini bikin aku bangga. Ia selalu tampak senang dengan segala tindakanku!” Sang kawan menjelaskan lebih gamblang.
”Kau begitu percaya pada anjingmu?” Selidikku.
“Tentu saja. Aku nyaris tidak perlu minta pendapat orang lain, jika anjingku tampak setuju dengan tindakanku.”
“...........?????”
(Ali Shodiqin)
Ada Bayi Di Kelas Saya
Aku serius mengerjakan lembaran test di bangku meja paling belakang. Suasana ribut dari kawan-kawan di kelas itu saya anggap sebagai musik saja. Ada yang jalan-jalan cari contekan. Ada yang diam saja dapat contekan. Ada menelepon pacarnya di rumah, walaupun jawabannya sama saja, tidak tahu isinya. Bahkan ada yang membuat kocokan seperti arisan, mana yang jatuh itulah jawabannya. Suasana ujian kenaikan kelas itu seperti suasana reuni. Kami bisa bersua bersama teman-teman sekelas ketika sedang test saja. Setelah test berlalu, kami tidak lagi pernah ketemu, kecuali pada test semester berikut.
Kelas kami sungguh istimewa. Di kelas kami ada hadir penghuni yang masih imut. Seorang bayi baru berumur delapan bulan. Dia bersama ibunya yang juga anggota kelas ini. Ia sedang lucu-lucunya, digendong ke sana kemari, seperti boneka. Digendong bergantian dengan oleh teman-teman lainnya. Sang bayi seperti cengengesan menyaksikan teman ibunya yang sedang mengerjakan test tanpa berpikir sama sekali.
Ohoi, sebuah kelas yang ada di dunia dongeng. Namun hal ini saya sebuah keniscayaan saja. Seperti air mengalir, untuk mengejar selembar pengakuan. Sebagai orang-orang tua yang melanjutkan sekolah. Konon sebuah kelas untuk orang-orang yang kurang beruntung. Untuk apa?
(Ali Shodiqin)
Kelas kami sungguh istimewa. Di kelas kami ada hadir penghuni yang masih imut. Seorang bayi baru berumur delapan bulan. Dia bersama ibunya yang juga anggota kelas ini. Ia sedang lucu-lucunya, digendong ke sana kemari, seperti boneka. Digendong bergantian dengan oleh teman-teman lainnya. Sang bayi seperti cengengesan menyaksikan teman ibunya yang sedang mengerjakan test tanpa berpikir sama sekali.
Ohoi, sebuah kelas yang ada di dunia dongeng. Namun hal ini saya sebuah keniscayaan saja. Seperti air mengalir, untuk mengejar selembar pengakuan. Sebagai orang-orang tua yang melanjutkan sekolah. Konon sebuah kelas untuk orang-orang yang kurang beruntung. Untuk apa?
(Ali Shodiqin)
Anjing Penjaga
Sebuah keluarga sedang bercengkerama bahagia di ruang tengah sambil menikmati makanan kecil. Mereka ada di sebuah rumah yang cukup baik di tengah sebuah padang yang tandus. Keberadaan mereka yang bahagia di tengah tegalan gersang tak urung membuat setiap orang yang melihatnya terheran-heran. Banyak diantaranya yang lantas ingin bersahabat dan berbagi cerita, berbagi pengalaman, berbagi persahabatan. Dan ada pula yang tidak senang namun ingin mendekat karena membutuhkan materi dari keluarga bahagia tersebut. Mereka adalah segerombolan makhluk yang suka menggonggong.
”Ayah, mereka datang lagi. Mengitari rumah kita!” Kata salah satu anak kepada ayahnya.
”Benar. Kemarin mereka pergi setelah kita beri makan, sekarang datang lagi!” Ujar ayahnya.
”Bisa tidak ayah membuat kesepakatan dengan mereka?” Sang istri menganjurkan.
”Mungkin itu solusinya!” Ayah keluar rumah sambil membawa sekeranjang makanan untuk makhluk-makhluk itu.
Seperti ada pembicaraan antara ayah dan para pendatang liar. Akhirnya terjadi kesepakatan. Untuk sementara mereka dibiarkan berkeliaran di luar rumah sebagai penjaga dan diberi makan, asal tidak mengganggu.
”Kita harus bersabar, mereka terpaksa kita jadikan anjing penjaga untuk rumah kita!” Kata ayah pada seluruh keluarga.
”Mungkin itu kelas mereka!” Kata Sang Ibu.
(Ali Shodiqin)
”Ayah, mereka datang lagi. Mengitari rumah kita!” Kata salah satu anak kepada ayahnya.
”Benar. Kemarin mereka pergi setelah kita beri makan, sekarang datang lagi!” Ujar ayahnya.
”Bisa tidak ayah membuat kesepakatan dengan mereka?” Sang istri menganjurkan.
”Mungkin itu solusinya!” Ayah keluar rumah sambil membawa sekeranjang makanan untuk makhluk-makhluk itu.
Seperti ada pembicaraan antara ayah dan para pendatang liar. Akhirnya terjadi kesepakatan. Untuk sementara mereka dibiarkan berkeliaran di luar rumah sebagai penjaga dan diberi makan, asal tidak mengganggu.
”Kita harus bersabar, mereka terpaksa kita jadikan anjing penjaga untuk rumah kita!” Kata ayah pada seluruh keluarga.
”Mungkin itu kelas mereka!” Kata Sang Ibu.
(Ali Shodiqin)
Langganan:
Postingan (Atom)
Usia SMA/SMK : 4 Strategi Orang Tua Kuatkan Komunikasi dengan Remaja
SAHABAT KELUARGA- “Ide bahwa anak adalah sumber pasif yang mudah dibentuk oleh orangtua mereka adalah hal yang terlalu dibesar-besarkan...
-
Menganggur setelah menikah tentu bukan pilihan yang bagus. Termasuk Fandi yang istrinya telah hamil. Merasa memiliki tanggungan dan malu kep...
-
Di tengah kampung yang padat, Sutini merawat dua anaknya, laki dan perempuan. Sang suami kerja di perantauan, pulang dua bulan sekali. Hari-...
-
Bertahun-tahun Said melakukan itu sendirian. Walaupun tanpa ada yang membayar sepeserpun. Sebuah pekerjaan kasar, tukang kebun, memangkas po...