Aku serius mengerjakan lembaran test di bangku meja paling belakang. Suasana ribut dari kawan-kawan di kelas itu saya anggap sebagai musik saja. Ada yang jalan-jalan cari contekan. Ada yang diam saja dapat contekan. Ada menelepon pacarnya di rumah, walaupun jawabannya sama saja, tidak tahu isinya. Bahkan ada yang membuat kocokan seperti arisan, mana yang jatuh itulah jawabannya. Suasana ujian kenaikan kelas itu seperti suasana reuni. Kami bisa bersua bersama teman-teman sekelas ketika sedang test saja. Setelah test berlalu, kami tidak lagi pernah ketemu, kecuali pada test semester berikut.
Kelas kami sungguh istimewa. Di kelas kami ada hadir penghuni yang masih imut. Seorang bayi baru berumur delapan bulan. Dia bersama ibunya yang juga anggota kelas ini. Ia sedang lucu-lucunya, digendong ke sana kemari, seperti boneka. Digendong bergantian dengan oleh teman-teman lainnya. Sang bayi seperti cengengesan menyaksikan teman ibunya yang sedang mengerjakan test tanpa berpikir sama sekali.
Ohoi, sebuah kelas yang ada di dunia dongeng. Namun hal ini saya sebuah keniscayaan saja. Seperti air mengalir, untuk mengejar selembar pengakuan. Sebagai orang-orang tua yang melanjutkan sekolah. Konon sebuah kelas untuk orang-orang yang kurang beruntung. Untuk apa?
(Ali Shodiqin)
Ini situs CERPEN HEBAT. Sudah cerita pendek, Hemat, hebat lagi! Dari yang sedikit ini diharapkan bisa memberi manfaat kepada semua pembaca.CERPEN HEMAT CERPEN HEBAT, CERPEN HEBAT CERPEN HEMAT, Benar-Benar CERPEN HEBAT.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Usia SMA/SMK : 4 Strategi Orang Tua Kuatkan Komunikasi dengan Remaja
SAHABAT KELUARGA- “Ide bahwa anak adalah sumber pasif yang mudah dibentuk oleh orangtua mereka adalah hal yang terlalu dibesar-besarkan...
-
Menganggur setelah menikah tentu bukan pilihan yang bagus. Termasuk Fandi yang istrinya telah hamil. Merasa memiliki tanggungan dan malu kep...
-
Bertahun-tahun Said melakukan itu sendirian. Walaupun tanpa ada yang membayar sepeserpun. Sebuah pekerjaan kasar, tukang kebun, memangkas po...
-
Entah bagaimana awalnya, Bos Dewi sudah tidak tertarik dipanggil “bos”. Menurutnya panggilan untuk orang kaya itu sudah usang. Membosankan. ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar