Ini situs CERPEN HEBAT. Sudah cerita pendek, Hemat, hebat lagi! Dari yang sedikit ini diharapkan bisa memberi manfaat kepada semua pembaca.CERPEN HEMAT CERPEN HEBAT, CERPEN HEBAT CERPEN HEMAT, Benar-Benar CERPEN HEBAT.
Tampilkan postingan dengan label DONGENG HEBAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DONGENG HEBAT. Tampilkan semua postingan
Selasa, 07 Agustus 2012
SEPAK BOLA DUNIA LAIN
Seorang pria paruh baya tampak terseok-seok mendekati sebuah pohon rindang dipinggir kota. Tampaknya dia hendak beristirahat di sana. Seharian dari pagi hingga siang meniti jalan, mendatangi rumah ke rumah, menadahkan tangan kepada setiap orang yang ditemui alias mengemis. Profesi yang dilakoninya itu semenjak ekonominya makin morat-marit. Apalagi fisiknya yang lemah dan makin membesarnya sakit gondok di lehernya. Siapa saja yang melihat kondisinya yang mengenaskan itu akan merasa sangat iba. Dan itulah salah satu modalnya untuk mengemis.
Namun akhir-akhir ini ia merasakan sekali perubahan. Sejak BBM naik dan harga-harga melambung, orang-orang makin pelit saja untuk menyisihkan recehan buat pengemis. Penghasilan mengemis pun nyaris tak cukup untuk keluarga.
"Peduli amat dengan orang pelit! Lebih baik istirahat dulu, ah!" desah lelaki itu sambil meletakkan pantatnya di atas tanah yang nyaris tertutup dengan daun pohon rindang itu. Batinnya menyadari sepenuhnya bahwa Tuhan Maha Adil.
Saking lelahnya, apalagi di bawah pohon yang sejuk ditambah terpaan angin semilir, menjadikan pengemis itu mengantuk. Kepasrahan yang total kepada Yang Kuasa, menjadikan dia tak merasakan kekuatiran apa-apa tidur di bawah pohon besar sendirian nan sunyi.
Sementara itu di dunia lain, tampak dua anak kakak beradik keturunan jin yang bermukim di pohon itu tengah asyik bermain. Ding dan Dong saling berebut dan saling menendang bola emas yang menggelinding bebas di bawah pohon itu. Rupanya demam sepakbola tidak hanya melanda umat manusia di dunia, di dunia jin pun pada demam bola. Tentu saja kegaduhan dua anak itu tak akan dirasakan oleh pengemis, karena mereka berada di dunia lain. Setelah lama bermain, sang adik yang bernama Dong itu berhenti menendang.
"Capai sekali Kak! Lama-lama kakiku sakit, habis bolanya keras sih!" kata Dong sambil menyandarkan tubuhnya pada pohon.
"Kok tidak ada bola yang empuk dari kulit ya?" kata Dong lagi.
Ding hanya tersenyum mendengar keluhan adiknya. Dia berpikir keras, bagaimana caranya agar bisa mengajak adiknya bermain sepak bola lagi. Tiba-tiba matanya menemukan sesuatu yang dicari-cari.
"Dong! Lihat ada bola empuk seperti yang kau maksud!" kata Ding sambil menunjuk bola yang 'nangkring' di leher pengemis yang tertidur di bawah pohon. Mereka segera berhambur mendekat.
"Wow! Bola yang bagus! Pasti mahal!" kata Dong sambil meraba-raba gondok pengemis yang dianggapnya bola itu.
"Kak Ding bisa mengambilnya?" Pinta Dong pada kakaknya.
"Akan aku coba!"
Dengan ilmu dunia jin tentunya, bola yang tak lain gondok pengemis itu ditariknya hingga lepas. Tak ada bekas sama sekali jika gondok itu diambil oleh makhluk halus.
"Kak, sebagai gantinya, bola emas ini kita letakkan saja di dekat leher orang ini. Kasihan jika dia mencari bolanya yang hilang!" Usul Dong.
"Usulmu bagus! Semoga dia tidak marah telah kita tukar bolanya!" ujar Ding.
Sejurus kemudian, Ding dan Dong tampak bersemangat bermain bola lagi. Kali ini bolanya empuk dan nyaman ditendang.
Hampir satu jam pengemis itu terlelap. Setelah bangun ia mendapati badannya terasa lebih segar dan ringan. Lama ia termenung, apanya yang beda? Barulah disadari gondoknya telah kempes tanpa bekas. Dan lebih terkejut lagi ia menemukan bola emas yang terletak di sebelahnya.
“Apa yang barusan terjadi padaku?” Gumamnya tak mengerti.
Tanpa ba bi bu, segera bola emas itu dimasukkan ke kantong perbekalannya dan segera pulang. Rupanya anak-anak dan istrinya sedang di luar, sehingga mereka pada kaget melihat perubahan besar pada diri ayahnya.
"Ayah sembuh! Ayah sembuh.....!" Teriak anak-anaknya menyambut kedatangan sang ayah dengan penuh sukacita. Ayah mereka kini sehat wal afiat, tanpa gondok lagi.
Rupanya, keceriaan hari itu adalah awal kebahagiaan mereka. Tidak lama kemudian kehidupan keluarga pengemis itu berubah makmur. Ia banting setir, beralih profesi. Pengemis itu menjual emasnya sedikit demi sedikit untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk modal kerja. Tidak lagi mengemis tapi mencoba menjadi seorang pedagang yang baik. Kini keluarga pengemis itu memiliki sebuah toko kelontong yang besar.
Tak ayal, perubahan yang super cepat itu membuat salah satu tetangganya iri hati. Kebetulan tatangga yang iri ini adalah orang kaya yang terkenal pelit. Si Pelit mencoba mendekati mantan pengemis itu untuk mengorek keterangan, darimana gerangan hartanya itu.
"Tolonglah saya diberitahu, darimana harta kamu yang sekarang melimpah itu!" Kata Si Pelit kepada mantan pengemis setengah memaksa.
"Sudah berkali-kali saya jawab, saya dapat rejeki dari Tuhan Yang Maha Esa!" Jawab mantan pengemis komplit.
Namun Si Pelit terus mendesak. Sudah tahu rejeki itu dari Tuhan, tapi pasti ada jalannya juga. Karena dipaksa-paksa terus, maka mantan pengemis memberitahunya juga.
Siang itu matahari teramat terik. Matahari sudah mencapai di tengah, menjelang luhur. Tampak Si Pelit dengan diam-diam pergi ke sebuah pohon seperti yang diceritakan mantan pengemis. Dia tidak sedang apa-apa, hanya hendak tidur. Walaupun tidak bawa tikar, dia bawa bantal juga, agar tidurnya nyaman. Dan dia benar-benar bisa tidur.
Di dunia lain, Ding dan Dong tengah bermain sepak bola. Tampak di wajah Dong, sang adik, diliputi kebosanan.
"Kak, rasanya terus-menerus pakai bola ini kok bosan. Kita kembalikan saja yuk!" Kata Dong pada kakaknya.
"Bisa! Tuh pemiliknya telah kembali ke sini!" Kata Ding menunjuk orang tidur tidak jauh dari tempatnya bermain.
"Tapi kemana bola kita?" Tanya Ding yang tidak menemukan bola emasnya lagi.
"Ah, peduli amat Dik! Biar saja bola hilang. Kan ayah kita bisa mengambil harta karun yang lain. Masih ada harta karun dari situs Pajajaran, ada emas cadangan dana revolusi, dan masih banyak lagi emas terpendam yang konon peninggalan Majapahit!" Kata kakaknya.
Kakak beradik dari bangsa jin itu sepakat. Maka serta merta Ding meletakkan kembali bola empuk yang nyaris kedodoran itu di leher orang tidur. Bola itu menempel dengan sempurna dan menyatu ke leher orang tidur itu.
Sesaat kemudian, Si Pelit terbangun. Alangkah terkejutnya dia, bukannya bola emas yang dia dapat, malah penyakit gondok besar telah tumbuh di lehernya. Seketika dia tidur kembali, alias pingsan! Untunglah tetangga-tetangganya telah menemukan Si Pelit, sehinga dia dibopong ramai-ramai ke rumahnya. Betapa menyesalnya Si Pelit, kenapa dirinya menjadi orang yang mudah iri hati, tidak mensyukuri kenikmatan dari Tuhan yang telah diberikan padanya?
(Kang Diqin)
BUTO TERONG DAN TUKANG SATE
Kerajaan Murajahe adalah kerajaan yang makmur. Rajanya seorang yang gagah perkasa, pemberani, dan jago perang. Namanya Raja Hurduk. Rakyatnya merasa tentram dipimpin olehnya.
Ketentraman kerajaan Murajahe tiba-tiba terusik dengan datangnya makhluk raksasa yang muncul tiba-tiba dari arah laut selatan. Tubuhnya besar dan gendut, tingginya dua kali orang dewasa. Matanya bundar dan besar dengan hidung seperti buah terong. Raksasa itu datang di kota raja membuat keonaran.
“Ada Buto Terong….. Ada Buto Terong!” Teriak orang-orang begitu melihat kedatangan raksasa yang mirip Buto Terong dalam dunia wayang.
Hingga sampailah raksasa Buto Terong itu di sebuah pasar. Seluruh penghuni pasar lari tunggang langgang. Raksasa menendang lapak-lapak dan mengobrak-abriknya. Sesaat kemudian matanya melotot lebar begitu dilihatnya banyak makanan melimpah di sana. Segala makanan apa saja segera dilahapnya setelah ditinggal lari pemiliknya.
Tentu saja kedatangan raksasa bikin resah rakyat Murajahe. Rakyat pada bersembunyi di rumah masing-masing. Ekonomi kerajaan Murajahe terancam bangkrut. Maka datanglah bala tentara kerajaan untuk mengusirnya. Namun sia-sia, raksasa sangat tangguh. Berapapun pasukan dikerahkan untuk menghancurkannya, tetap saja ia yang menang. Pasukan kerajaan dibuatnya kocar-kacir.
Kekalahan pasukan kerajaan memaksa raja Hurduk untuk turun tangan. Dihadapinya raksasa satu lawan satu. Mereka duel laksana dua jagoan yang lama tidak bertemu. Namun raja yang dikenal petarung ulung itu dengan mudah dikalahkan. Dengan kalahnya sang raja, maka raja harus menuruti segala kemauan raksasa, yaitu menyediakan rumah dan makanan setiap hari. Jika tidak, ia akan mengobrak-abrik kerajaan Morarino hingga hancur.
Terpaksa Raja Hurduk setuju. Raksasa diberi sebuah rumah yang besar untuk tempatnya tidur. Rakyat digilir untuk mengirim makanan ke raksasa yang rakus itu. Tentu saja rakyat Murajahe makin susah, karena makannya raksasa sangat banyak.
Segera Raja Hurduk mengumumkan kepada rakyatnya, siapa saja yang bisa mengalahkan raksasa akan diberi hadiah besar. Rupanya tidak mudah mencari orang yang berani menghadapi Buto Terong. Sayembara sepi peminat. Selama belum ada yang bisa mengalahkan raksasa, rakyat terus mengirimkan makanan ke raksasa.
Hingga suatu hari datanglah seorang tukang sate yang terkenal bisu bersama anaknya yang masih remaja. Namanya Pak Kuntrung dan Si Kenting.
“Apa yang akan kalian lakukan terhadap raksasa?” Tanya Raja Hurduk melihat kedatangan Pak Kuntrung dan Si Kenting dengan pikulan sate ayamnya.
“Maaf Baginda. Kami akan mencoba melayani makannya raksasa dulu, setelah itu kami akan mengusirnya dengan cara kami,” kata Kenting mewakili ayahnya yang bisu. Pak Kuntrung hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mengiringi ucapan anaknya.
“Dengan apa kalian mengusirnya?” Raja makin penasaran. Apalagi dilihatnya tukang sate itu sudah tua, dan anaknya masih remaja pula.
“Maaf Baginda. Kami belum bisa mengatakannya. Takut tidak berhasil. Kami hanya minta didoakan semoga membawa kemenangan!” Kata Kenting hati-hati.
Raja mengambil nafas panjang. Hatinya masygul. Mau tidak mau ia harus melepas warganya yang tampak tidak berdaya itu menghadapi raksasa Buto Terong.
Siang itu Pak Kuntrung dan anaknya datang ke tempat raksasa untuk setor makanan sebagaimana giliran rakyat memberi makan. Melihat kedatangan Pak Kuntrung dan anaknya yang tampak tenang, raksasa merasa heran. Biasanya orang datang memberi makan sambil takut-takut, setelah itu segera kabur.
“Kalian membawa makanan macam apa untuk makan siangku?” Tanya raksasa sambil terbengong-bengong menyaksikan tukang sate yang hendak memanggang sate.
Dengan mimik orang bisu, Pak Kuntrung menjawab dengan gerakan tangan.
“Apa yang dikatakannya?” Tanya raksasa setelah menyadari tukang sate itu bisu.
“Kami akan membuat sate ayam untuk tuan raksasa!” Kata Kenting.
“Sate ayam? Apa itu?” Tanya raksasa.
Selama ini yang dimakan raksasa adalah nasi sama ayam yang dimasak utuh, atau kambing yang dipotong besar-besar. Atau ketela rebus yang besar-besar dengan jumlah banyak.
“Sate terbuat dari daging ayam atau kambing yang dipotong-potong, disunduk pakai lidi. Lalu dibakar sampai matang dan diberi bumbu,” kata Kenting menjelaskan.
Raksasa geleng-geleng kepala. Tak lama kemudian sate ayam dengan ukuran yang agak besar sudah matang. Kemudian disajikan dihadapan raksasa beserta seember nasi.
Raksasa makan sate dengan lahap.
“Lezat sekali! Aku belum pernah makan seenak ini!” Kata raksasa berbinar-binar.
Dengan cepat raksasa melahap makanannya. Dalam waktu singkat makanannya habis tak tersisa.
“Heh, tukang sate yang baik! Aku ingin tahu, biasanya sate itu terbuat dari daging apa saja?” Tanya raksasa sambil mengelus-elus perutnya yang kekenyangan.
“Apa saja bisa tuan! Sate sapi, sate kuda, sate kerbau, bahkan dari makhluk galak!” Jawab Kenting meyakinkan.
“Makhluk galak? Kalian bisa menangkapnya?”
“Tentu saja. Lihat saja ayah saya yang bisu. Dia terbiasa membunuh makhluk galak tanpa berucap. Begitu saja makhluk itu tertangkap dan terbunuh!”
Raksasa diam sejenak. Hatinya mulai gelisah. Ia mengawasi ulah tukang sate dan anaknya yang seperti mempersiapkan sesuatu.
“Untuk siapa saja kalian membuat sate dari makhluk galak?” Raksasa makin penasaran.
“Siapa saja boleh memesan tuan. Biasanya yang pesan sate makhluk galak itu bangsa gendruwo!” Jawab Kenting sambil menghunus parang besar dan diberikan ayahnya.
Mendengar kata gendruwo, raksasa itu tampak kaget.
“Kamu hari ini dapat pesanan dari gendruwo apa tidak?” Tanya raksasa begitu dilihatnya Pak Kuntrung mengasah parangnya.
“Iya tuan. Ada tiga gendruwo pesan tiga makhluk galak. Tapi hari ini kami hanya menemukan satu makhluk galak!”
Mendengar jawaban Kenting, mata raksasa melotot lebar. Siapa makhluk galak itu? Pikirnya was-was. Apalagi Pak Kuntrung yang bisu itu mengawasi dirinya sambil komat-kamit.
“Makhluk galak itu……..makhluk…. makhluk apa?” Tanyanya dengan nada gemetar.
“Maaf tuan. Makhluk galak itu seperti tuan raksasa!” Kata Kenting masih tenang.
Bak petir di siang bolong begitu raksasa mendengar jawaban Kenting. Ia mundur selangkah. Apalagi ketika dilihatnya Pak Kuntrung juga mengeluarkan tali bergulung-gulung, dan beberapa pisau kecil seperti ketika hendak membuat sate. Tidak itu saja, Pak Kuntrung memberi isyarat kepada Kenting agar membesarkan apinya.
Kenting segera tanggap. Api di perapian sate ditambah arang yang banyak, setelah itu dikipasi. Api menyala makin besar. Sementara Pak Kentrung berjalan ke depan hendak menutup pintu rumah sambil membawa parang yang sudah mengkilap.
“Jangan…!! Jangan…!” Teriak raksasa ketakutan. Yang ada dibenak raksasa pastilah ia akan dibuat sate oleh Pak Kentrung dan anaknya yang hebat itu.
Tanpa melihat-lihat lagi, raksasa itu kabur menabrak pintu yang baru saja ditutup.
“Gubrak….!!!” Pintu roboh kena tendangan kakinya.
Raksasa kabur dengan begitu cepatnya. Ia lari terbirit-birit ke arah pantai selatan kemudian berenang menuju sebuah pulau entah di mana tempatnya, tidak ada yang tahu.
Rakyat yang kebetulan melihat kaburnya raksasa Buto Terong pada bersorak gembira. Raja Hurduk yang mendengar keberhasilan tukang sate sangat gembira, namun sekaligus terheran-heran.
“Apa yang barusan dilakukan tukang sate dan anaknya?” Batin Raja tak habis pikir.
Segera mereka berdua diundang ke istana raja untuk menceritakan apa yang telah dilakukan Kenting dan ayahnya.
Di istana, Raja Hurduk beserta seluruh puggawanya terbahak-bahak mendengar cerita Kenting yang bisa mengalahkan raksasa tanpa pertarungan sama sekali. Raja sangat puas akan kecerdikan Pak Kentrung dan Kenting. Mereka memperoleh hadiah besar. Tidak itu saja, Kenting disekolahkan oleh Raja Hurduk hingga dewasa. (Kang Diqin)
Langganan:
Postingan (Atom)
Usia SMA/SMK : 4 Strategi Orang Tua Kuatkan Komunikasi dengan Remaja
SAHABAT KELUARGA- “Ide bahwa anak adalah sumber pasif yang mudah dibentuk oleh orangtua mereka adalah hal yang terlalu dibesar-besarkan...
-
Menganggur setelah menikah tentu bukan pilihan yang bagus. Termasuk Fandi yang istrinya telah hamil. Merasa memiliki tanggungan dan malu kep...
-
Entah bagaimana awalnya, Bos Dewi sudah tidak tertarik dipanggil “bos”. Menurutnya panggilan untuk orang kaya itu sudah usang. Membosankan. ...
-
Bertahun-tahun Said melakukan itu sendirian. Walaupun tanpa ada yang membayar sepeserpun. Sebuah pekerjaan kasar, tukang kebun, memangkas po...