Ini situs CERPEN HEBAT. Sudah cerita pendek, Hemat, hebat lagi! Dari yang sedikit ini diharapkan bisa memberi manfaat kepada semua pembaca.CERPEN HEMAT CERPEN HEBAT, CERPEN HEBAT CERPEN HEMAT, Benar-Benar CERPEN HEBAT.
Tampilkan postingan dengan label CERPEN INSPIRASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN INSPIRASI. Tampilkan semua postingan
Senin, 19 Maret 2018
MENCARI MAKHLUK ISTIMEWA
Di bawah jembatan reot itu, seekor anak kucing termenung sendirian.
Ia memikirkan induknya yang sudah amat tua dan lemah.
“Siapakah
yang akan melindungiku bila ada musuh?” pikir Si Coklat, nama anak kucing yang
bulunya coklat itu.
“Bu,
siapakah makhluk yang paling hebat dan istimewa di dunia ini?” tanya Si Coklat
suatu ketika.
Induknya
sempat bigung.
“Om
Matahari!” Jawab induknya setelah berpikir.
“Oh, ya?
Kenapa dia istimewa?”
Nah kan?
Anak cerdas pasti suka bertanya, pikir sang induk.
“Lihat
saja sendiri. Om Matahari rajin terbit dari timur dan tak pernah terlambat.
Cahayanya menerangi bumi, hingga makhluk hidup di bumi menjadi sehat. Ibu
pikir, dialah makhluk istimewa dan hebat!” Sang induk menjelaskan panjang
lebar.
“Apa Coklat
boleh belajar kepada Om Matahari?”
“Tentu
boleh. Ibu senang punya anak yang senang belajar!”
Maka
pergilah Coklat ke atas bukit tertinggi.
“Assalamu’alaikum,
Om Matahari!” Ucap Coklat pada Matahari.
“Alaikum
salam!” Jawab Matahari.
“Kata
Ibu, Om makhluk istimewa dan hebat!”
“Hmmm....
Mungkin saja!” Kata Matahari ragu.
“Aku
ingin belajar pada Om Matahari. Tapi, adakah makhluk lain yang lebih hebat dari
Om?”
Matahari
diam sejenak. “Baiklah. Aku kalah dengan
Kek Mendung!”
“O,
tidak sangka. Aku tunggu Kek Mendung saja!”
Tidak
lama, dari timur mendung datang. Tiba-tiba sinar matahari terhalang hingga
suasana jadi sejuk.
“Hebat,
hebat!” Seru Coklat girang.
“He...he...
Bisa saya bantu?” Tanya Mendung.
“Aku
ingin belajar pada Kek Mendung, bila tidak ada yang lebih hebat dari Kakek!”
Kek
Mendung tersenyum kecut. “Baik Coklat! Jika hujan datang, mendung akan hilang!”
Benar
saja, setelah hujan datang, sirnalah mendung.
“Hujan
memang hebat!” seru Coklat takjub. “Adakah yang lebih hebat dari Bapak?”
“Wah,
aku kalah dengan gunung. Diguyur hujan berapapun, ia tetap tegar!” jawabnya
tanpa basa-basi.
“Terima
kasih. Aku akan ke Wak Gunung saja!”
Gunung
pun menyambut kedatangan Si Coklat.
“Wah,
gunung yang besar. Barangkali inilah calon guru saya yang sesungguhnya!” Kata
Coklat pada Wak Gunung.
“Ho...
ho...., tapi sayang. Sehebat-hebatnya aku, masih kalah dengan tikus kecil!”
kata Wak Gunung sendih. “Tikus suka membuat rumah di tubuhku!”
Coklat
melongo mendengar penjelasan Wak Gunung yang ternyata kalah dengan seekor
tikus.
Dengan
susah payah, dicarilah tikus di gunung itu.
“Mas
Kus, rasanya kaulah makhluk yang paling perkasa!” Kata Coklat pada Mas Tikus.
“Apaa...!”
Tikus melongo. “Apa alasanmu?”
“Kata
ibuku, makhluk hebat itu Om Matahari. Tapi dia kalah dengan Kek Mendung. Lalu
kalah lagi dengan Pak Hujan. Hujan pun kalah dengan Wak Gunung. Kini Gunung
kalah olehmu. Pasti tidak salah jika aku datang ke sini!” Coklat menjelaskan
panjang lebar.
“Ketahuilah
Nak Coklat! Aku sendiri kalah dengan indukmu!” Kata Mas Kus.
Bak ada
petir, Si Coklat kaget bukan kepalang.
“Kau
kalah dengan indukku yang sudah tua itu?”
Tikus
mengangguk meyakinkan.
Tidak
disangkanya, sang induk adalah makhluk paling hebat! Dibayangkan wajah ibunya
yang keriput. Di balik keriputnya ternyata menyimpan keperkasaan yang tiada
tanding.
“Aku
tidak terlambat! Ibuku memang segalanya!”
Dengan
girang Coklat segera pulang. Dia ingin memandang ibunya dengan pandangan cinta
dan kasih sayang, bukan pandangan kosong seperti sebelumnya. Untuk selanjutnya,
Si Coklat bertekad ingin ikhlas berbakti kepadanya. Ali Shodiqin (Pernah dimuat di Surabaya Post 22.12.96)
Selasa, 14 Agustus 2012
Silaturrahim Ala Anak MTs
Anak saya Almas sudah naik kelas 2 MTs Lasem. Di bulan Ramadhan 2012, mulai pertengahan puasa gurunya mempunyai program silaturrahim antar anak-anak. Anak-anak dibuat berkelompok-kelompok. Setiap kelompok ada 5 anak. Satu kelompok itu supaya saling mengunjungi ke rumahnya masing-masing.
Rupanya program silaturrahim macam kelas dua MTs Negeri Lasem ini cukup membuat anak-anak senang. Diantara mereka kemudian terjalin semacam keakraban yang tidak terlupakan. Mereka menjadi teman, karib, sahabat dan bahkan saudara.
Mula-mula mereka mengunjungi salah teman yang ada di Lasem. Di sana mereka bercengkerama beberapa jam di rumah teman. Terkadang di rumah teman itu ditemui orang tua, kadang tidak. Seperti ketika berkunjung ke teman satunya lagi di lain hari, mereka ditemui orang tuanya lengkap. Walau kemudian orang tuanya melanjutkan kesibukan lain, memberi kesempatan anak-anak saling berinteraksi.
Terkadang pula, anak saya mendapat oleh-oleh dari berkunjung itu. Pernah mendapat tiga buah kelapa muda. Masih diantar ke jalan, dapat uang saku pula. Ada yang memberi oleh-oleh sandal kembar berlima plus jajanan untuk dibawa pulang.
Rumah yang paling jauh dikunjungi adalah di tempat anak saya, ya rumah saya ini. Di kota Rembang. Saya pas kerja, ditemui Umiknya. Silaturrahim di rumah lancar-lancar saja. Saya nyaris menduga, di rumah ini mereka tidak dapat buah tangan apa-apa. Rupanya meleset. Istri saya memberi oleh-oleh masing-masing sebuah kerudung dan uang saku. Mendengar pengakuan anak saya, saya hanya bisa berucap Alhamdulillah. Senang dan haru. Semoga silaturrahim yang dicanangkan oleh MTs Negeri Lasem ini mendapat Ridho Allah SWT. Amin.
(Ali Shodiqin)
Niat Olahraga, Dapat Sepeda Mahal
Pada hari ulang tahun Bhayangkara Tahun 2012 Kabupaten Rembang diadakan sepeda santai mengelilingi kota. Acara yang diselenggarakan oleh kesatuan Polisi itu diadakan untuk umum dan gratis. Sudah gratis, hadiahnya bajibun pula. Tiga sepeda motor, puluhan sepeda berbagai macam merek, televise, jam dinding, dan hadiah hiburan lainnya.
Istri saya dan tiga orang anak saya ikut sepeda santai yang diselenggarakan hari Sabtu itu. Sebelumnya memang istri saya diberi tahu tetangga yang kebetulan suaminya seorang polisi. Untungnya di rumah ada tiga buah sepeda, jadinya semuanya ikut kecuali saya, karena saya mesti masuk kerja. Istri memboncengkan anak yang kecil, yang dua sudah SMP dan SD naik sepeda sendiri-sendiri.
Dengan hadiah yang banyak itu, tentu kami berharap dapat hadiah utama, sepeda motor misalnya. Tapi buru-buru istri menimpali.
“Sudahlah, tidak usah berharap banyak mendapat hadiah. Kita niati ikut sepeda santai ini untuk olah raga saja!” kata istri saya kepada anak-anak.
Barangkali maksud istri saya, jika tidak dapat hadiah biar tidak kemrungsung. Tampaknya anak-anak mengiakan. Tapi di batin saya tetap berharap mendapat sepeda motor. Betapa senangnya jika benar mendapat sepeda motor.
Acara sepeda santai berlalu dengan lancar. Saya di kantor hanya bisa berdoa, harap-harap cemas semoga dapat hadiah sepeda motor. Saya tidak merasakan, betapa melelahkan ikut sepeda santai. Terutama istri saya yang memboncengkan si kecil sambil menggiring anak-anak. Padahal rutenya cukup jauh.
Waktu dzuhur telah tiba. Tiba-tiba saya dapat sms dari istri saya.
“Mas, Alhamdulillah dapat hadiah sepeda!” Demikian SMS istri.
“Alhamdulillah…..!” Ucap saya girang. Segera saya menelepon istri.
“Bagaimana dik? Dapat Sepeda?” Tanyaku gembira.
“Ya Mas. Nih sudah diambil!”
“Ndak dapat sepeda motor?” Tanyaku setengah iseng.
“Dapat sepeda sudah Alhamdulillah Mas!”
“Okey. Alhamdulillah!”
Ternyata kupon yang keluar milik anak saya yang kedua. Zahwa namanya, kelas Empat yang baru beberapa hari naik ke kelas lima. Hadiahnya sepeda merk Wim Cycle warna merah berjenis ‘kelamin’ laki-laki. Saya coba tawarkan untuk ditukar dengan sepeda perempuan, ia tidak mau. Katanya lebih asyik. Hadiah sepeda itu menjadi semacam hadiah untuk kenaikan kelas Zahwa.
Ngomong-ngomong, sebenarnya istri saya sudah merencanakan untuk menjual dua dari tiga sepeda, untuk kemudian dibelikan sepeda yang lebih baik. Tujuannya agar lebih layak dipakai Zahwa ke sekolah. Karena selama ini Zahwa bersemangat naik sepeda sendiri ke sekolah, tidak lagi saya antar. Tapi Allah SWT telah memberikan rizki untuk Zahwa sepeda baru yang harganya berkisar Rp. 1.750.000,- itu.
Saya lantas ingat ucapan istri saya sebelumnya. “Kita ikut sepeda santai diniati olah raga saja!” Niat yang baik ternyata berbuah hadiah sepeda yang bagus. Alhamdulillah.
(Ali Shodiqin)
Selasa, 07 Agustus 2012
OM BAK YANG RAJIN BEKERJA
Dia orangnya tidak mau berpangku tangan. Setiap hari, setiap saat pekerjaannya adalah membawa gelombang laut menuju pantai, sehingga membuat suasana laut selalu bergerak. Seluruh makhluk hidup di laut pada senang, karena dengan adanya gelombang berarti ada kehidupan di laut.
Mula-mula ia datang dari tengah laut, bergulung-gulung membawa gelombang menuju pinggir. Setelah ia berjalan sambil menyapa seluruh penghuni laut yang dilaluinya, barulah ia menghambur ke pantai yang landai. Air pun pecah di hamparan pantai yang landai. Bermain-main sebentar, tidak lama kemudian segera kembali ke tengah laut untuk mengulang lagi pekerjaannya. Dialah Bak-Bak. Saya biasa memanggil Om saja. Atau Om Bak.
Sesaat setelah aku turun dari langit lewat hujan, aku bertemu Om Bak di samudra luas. Sejak awal bertemu aku sudah kagum dengan semangatnya dalam bekerja keras. Suatu hari ketika aku bermain, berkecipak bersamanya.
“Om, apa yang Om cari dengan bekerja setiap hari tanpa henti?” Tanyaku suatu hari.
“Aku tidak mencari apa-apa kecuali hanya bekerja atas perintah Tuhan, tidak lebih!” Jawab Om Bak.
“Wow. Om baik sekali, dong!”
Om Bak hanya tertawa.
“Aku adalah bagian dari kehidupan laut yang dihuni makhluk air yang beraneka ragam. Mereka menyukai pekerjaanku!” Om Bak menjelaskan.
Hari itu aku mengikuti Om Bak bergulung-gulung menuju sebuah pantai. Seperti biasa, Om Bak menyapa siapa saja yang dilaluinya.
“Itu sedang apa Om Bak?” Tanyaku begitu melihat ada orang yang terapung-apung di atas sebuah lesung.
“Itu orang naik sampan, mencari ikan teri! Aku menyebutnya nelayan!” Jawab Om Bak.
“O, begitu!”
“Halo Pak Nelayan, selamat bekerja!” Sapa Om Bak disambut gembira si nelayan. Nelayan sangat dibantu oleh Om Bak, karena dengan adanya ombak ikan-ikan pada bermunculan ke permukaan.
“Lihat ada lagi. Dia membawa apa itu?” Aku melihat pak nelayan di atas perahu lebih besar sambil melemparkan sesuatu ke laut.
“Itu nelayan juga. Hanya dia mencari ikan yang lebih besar dengan jarring besar.”
“Lihat! Ada yang terapung-apung!” Aku berteriak melihat orang terapung.
“Dia pasti orang hendak tenggelam. Biar aku yang mendorongnya ke pinggir!” Om Bak segera mendorong orang itu.
“Byuurr….!!!”
Orang itu didorong Om Bak dengan gelombangnya. Begitu terus menerus hingga mendekati pantai. Dan orang-orang pun pada berhamburan menolong orang yang malang itu. Sementara aku dan Om Bak terus bergulung ke pinggir, menerjang pantai yang indah. Kulihat orang yang tengah ditolong ramai-ramai tadi direbahkan di pantai. Syukurlah ia selamat.
Aku tidak bosan-bosan mengikuti Om Bak mengembara. Suatu hari, ketika dalam perjalanan membawa gelombang laut, Om Bak tidak menemukan pantai yang landai. Yang ada adalah gunungan tanah urug untuk menimbun pantai. Sepertinya akan dijadikan pemukiman baru di sana.
Apa yang terjadi kemudian? Om Bak yang giat bekerja itu menabrak gundukan tanah yang tinggi. Aku pun ikutan menghantam urugan tanah lalu tergelincir ke bawah. Aku mengikuti kembali larinya Om Bak ke laut. Tampak ia merasa amat dongkol.
“Manusia itu kurang kerjaan. Bukankah pantai itu haknya segala makhluk, termasuk manusia dan aku sendiri sebagai ombak!?” Kata Om Bak sewot.
“Memangnya Om Bak punya hak apa terhadap pantai?” Tanyaku tidak mengerti.
“Aku kan butuh tempat untuk memecahkan gelombang yang kubawa!” Jelas Om Bak. “Buat manusia jelas untuk berlabuhnya nelayan dan menjadi tempat wisata yang sangat berguna bagi kehidupan manusia!”
“Lantas, Om Bak setelah ini mau ke mana?” Tanyaku agak khawatir, karena kulihat Om Bak berputar-putar di tengah laut.
“Gelombangku berkumpul cukup besar! Aku harus mencari tempat lain untuk memecahkan gelombangku sampai bertemu pantai yang landai!”
Aku melihat kepanikan Om Bak. Karena setelah dicoba berkali-kali ke pinggir laut, ia tetap menghantam gundukan tanah milik manusia. Jadilah gelombang yang dibawanya makin membesar di tengah lautan.
Aku masih setia mengikuti pengembaraan Om Bak. Kali ini aku diajak ke pantai lain yang mungkin bisa untuk memecahkan gelombang besar. Betapa terkejutnya aku, tanpa bermaksud merusak, Om Bak menerjang pantai yang banyak didirikan rumah-rumah penduduk.
“Maafkan aku manusia!” Teriak Om Bak bersama deburan gelombang yang menerjang dinding sebuah rumah.
“Om Bak, bukankah rumah penduduk itu sudah lama ada di sana?” Tanyaku dengan perasaan iba kepada manusia yang terkena musibah.
“Benar! Sebenarnya mereka tidak boleh membuat rumah di pantai. Dulu aku masih tidak tega menerjang mereka. Tapi kali ini aku tidak bisa kompromi. Mereka mesti tertabrak ombakku yang mulai sulit kukendalikan!” Kata Om Bak tampak risau.
Apa yang terjadi di luar dugaan. Bagian belakang rumah-rumah penduduk ambrol dihantam ombak. Penduduk pada panik, mereka mengungsi dan mengambil barang-barangnya agar tidak hanyut.
Sore itu langit mendung. Angin berhembus dengan kencang. Kulihat Om Bak makin tidak bisa mengendalikan ulah gelombang yang dibawanya.
“Aku tidak suka angin kencang. Pasti akan parah jadinya!” Kata Om Bak dengan panik.
Benar saja. Gelombang yang dibawa Om Bak makin besar dengan gerakannya yang makin cepat.
“Byurr…!!!” Kembali ombak besar menghantam pemukiman manusia. Akibatnya, tidak hanya tembok belakang yang ambrol, tapi separuh rumah penduduk runtuh. Bahkan rumah penduduk lain ada yang roboh total dan terseret arus menuju lautan.
“Oh Tuhan. Tolonglah mereka!” Bisikku begitu melihat rumah-rumah pada roboh.
Kekuatan gelombang yang dibawa ombak yang mestinya pecah di pantai, menjadi dorongan yang kuat di tengah laut. Om Bak lantas kembali lagi ke pantai lain dengan kekuatan penuh dan gelombang yang makin besar pula. Akibatnya manusia juga yang menjadi korban atas ulah manusia lainnya.
Begitulah, Om Bak akan mencari ganti ke pantai lain jika pantai landai yang biasanya dipakai bekerja tidak ditemukan lagi. (Kang Diqin)
PRIYO SI RAJA HUTAN
"Hooiii........!" Sebuah teriakan menggema di hutan lindung, tepatnya di kawasan hutan Mantingan Rembang Jawa Tengah. Para penghuni hutan, yang tak lain para binatang itu pun pada terkejut.
"Hoo.....iii.......!" Sekali lagi teriakan itu terdengar, dan bahkan berkali-kali.
"Hua..ha...ha....!" Kini suara tertawa-tawa. Tawanya keras sekali. Hantukah? Pemburukah? Atau bahkan Tarzan? Ah, itu kan hanya di dunia komik. Mau tak mau warga hutan terbengong-bengong penuh tanda tanya. Anak burung yang belajar musik berkicau mendadak berhenti latihan. Anak-anak monyet yang latihan bergelantungan nyaris saja jatuh karena kaget. Bahkan anak harimaupun tiarap, jangan-jangan ada pemburu yang tengah mencari buruan binatang buas untuk dikuliti dan dijadikan hiasan. Hii ngeri! Ada apa gerangan?
"Ha...ha...ha.... aku Priyo, raja baru di hutan ini!" Rupanya dia bernama Priyo. Harimau muda, putra mahkota raja hutan yang kebetulan tahu keberadaan pendatang baru itu pun merangkak pergi kemudian lari terbirit-birit pulang ke istana gua tempat orang tuanya bersemayam, si Raja Rimba.
"Romo...Romo......! Ada subversip!" Harimau putra berteriak-teriak keras.
Sontak seluruh penghuni gua istana harimau itu pada jomblak!
"Ada penyerangan Romo!" Lapor putra mahkota itu setelah menggelosor krenggosan.
"Penyerangan?" Raja hutan yang dipanggil romo itu terkaget-kaget.
"Si Mony! Selidiki apa yang terjadi!" Perintah Romo Hutan kepada dedengkot monyet. Sang ketua monyet yang dipanggil Mony itu segera melompat ke atas pohon dan bergelantungan dari dahan ke dahan. Gerakannya cepat menuju lokasi.
Bermula ada seorang pemuda stress di sebuah desa terpencil di pinggir hutan. Dia banyak berulah, maklum orang gila. Suatu ketika orang tuanya memasungnya. Kakinya dimasukkan kayu berlubang agar tidak pergi kemana-mana. Namun suatu hari terlepas, gara-gara dia mengaku sudah sembuh dan ingin bebas. Ketika lepas itulah, diantara setengah sadar dan tidak alias setengah gila, pemuda yang bernama Priyo itu berlari ke arah hutan. Orang tuanya dibantu warga desa tidak bisa mengejarnya lagi. Hilang di tengah hutan. Karena pada putus asa, maka nasib si Priyo dipasrahkan saja pada yang kuasa yaitu Allah SWT.
Si Mony, setelah tahu gelagat yang tidak beres perihal orang yang baru datang itu segera paham.
"Dari tingkahnya seperti orang gila! Pasti dia kesasar!" Bathin Mony. Segera ia kembali ke rajanya.
"Gawat Romo, yang barusan datang itu ternyata orang gila!" Kata Mony.
"Apa? Orang gila?" Romo tercenung. "Justru ini masalahnya!"
Benar saja kekuatiran sang Romo. Ulah Priyo makin tak terkendali. Lihat saja, dia langsung naik ke sebuah gundukan tidak jauh dari istana raja.
"Hooiii.....! Saudara-saudaraku semuanya, warga hutan yang saya hormati!" Teriak Priyo menggema.
"Mari kita berkumpul disini, kita adakan rapat akbar! Hooiii.....!"
Demi mendengar panggilan aneh, masyarakat hutan pada berdatangan. Gajah, sapi, kancil, kijang, buaya, kodok, tikus, badak, ular, kelinci, babi, rusa, seliro, musang, kambing, bebek, ayam alas, burung, merak, beruang, kuda....... pada berdatangan. Raja hutan yang mengintip 'rapat akbar' itu menjadi masygul hatinya.
"Dasar orang kurang waras! Aku belum pernah mengumpulkan wargaku sebanyak ini!" Gumam raja hutan itu menyaksikan banyaknya warga hutan yang berkumpul. Batinnya tidak terima dengan kelakuan Priyo yang tiba-tiba bisa mengendalikan massa hutan.
"Saudara-saudaraku semuanya! Kita berkumpul disini untuk mengadakan reformasi total!" Suaranya berapi-api bagaikan seorang jurkakam (juru kampanye kampungan).
"Mari kita dukung reformasi dalam dunia kebinatangan! Kita harus meningkatkan taraf hidup warga hutan agar lebih layak! Tidak akan ada BBM naik, tidak akan ada PLN naik, tidak akan ada sembako naik, tidak akan ada harga-harga naik! Harap kalian memahaminya!" Nyaris seperti kampanye bupati.
"Hidup Priyo....hidup Priyo.....hidup Priyo...!" Gegap gempita massa hutan menyambut orasi Priyo.
Namun, tiba-tiba setelah itu : "Kini, akulah yang menjadi raja kalian! Priyo si Raja Hutan yang reformis!"
Kali ini tidak ada yang menyahut. Karena tidak jauh dari situ ada istana raja harimau. Takut raja harimau mengamuk. Pasti anak buah raja hutan itu ada di mana-mana. Hingga akhirnya rakyat rimba pada bubar pelan-pelan.
Ulah Priyo tidak hanya sebatas itu saja. Dengan seenaknya dia menunggang gajah yang paling besar. Di atas punggung gajah, Priyo berorasi soal reformasi hutan.
"Jika hutan ini kedatangan manusia yang merusak hutan, kita sikat dia!" Kini issu pelestarian hutan diangkat Raja Priyo.
"Hutan ini tidak boleh rusak oleh manusia yang tidak bertanggung jawab!"
Setiap kedatangan Priyo di sebuah tempat di hutan itu, selalu banyak yang datang untuk menontonnya. Hal itu berlangsung hingga beberapa hari.
Di dalam istana raja hutan diadakan patas alias rapat terbatas. Pesertanya otomatis terbatas, hanya binatang-binatang penting yang hadir. Mereka membahas kondisi pemerintahan hutan lindung yang dianggapnya genting.
Setelah rapat itu berjalan alot, akhirnya diputuskan sebuah kiat jitu untuk menghadapi 'Priyo Si Raja Hutan'.
Di pagi yang cerah itu, Si Mony 'sowan' ke hadapan Priyo Si Raja Hutan. Si Mony mengemban misi khusus dari raja hutan. Tampak Priyo duduk di bawah pohon rindang. Dia asyik makan buah-buahan hasil kiriman binatang-binatang sekitarnya. Cara makannya ngawur. Jika monyet makan buah dihabiskan, Priyo justru tidak. Buah-buah itu dimakannya separo-separo, lalu dibuang jauh-jauh. Monyet-monyet lain pada sibuk berebutan dan memakannya. Mubazir, batin mereka.
Baju Priyo pun sudah tidak utuh lagi. Hanya pakai celana panjang yang sudah sobek di bawahnya. Entah apa yang barusan dilakukannya, secepat itu ia jadi seperti Tarzan.
Melihat kedatangan si Mony, Priyo memperhatikannya dengan curiga.
"Baginda Raja, kami mau matur!" Kata Mony pada Priyo.
"Oh, ya? Silahkan, katakan saja!" Barulah si Priyo serius menerima Mony.
"Tuan Raja dipersilahkan masuk istana hutan, khusus untuk tuan Priyo!"
Priyo melongo. Istana? Spontan wajahnya cerah.
"Baik, ayo kawal aku kesana!"
Segera Priyo diantar si Mony menuju istana hutan yang tidak jauh dari tempat duduk Priyo. Priyo tampak terkesima dengan luasnya gua yang katanya istana itu. Baunya tak sedap untuk sebuah istana. Priyo tak peduli dengan semuanya. Sesaat kemudian keluarlah harimau dari dalam gua yang lebih dalam. Priyo sempat terkejut, namun segera kembali cengengesan menyambut harimau.
"Inilah panglimaku! Mari kita amankan hutan ini dari koruptor!" Kata Priyo bersemangat.
Harimau hanya melongo. Maklum, di hutan tidak ada koruptor, yang ada predator.
"Silahkan tuan Priyo, duduk di singgasana!" Kata harimau kemudian.
Priyo segera naik di atas batu besar dan duduk. Di sebelah kanannya duduk panglima yang tidak lain adalah harimau, dan sebelah kirinya si Mony sebagai penasehat kerajaan. Setelah makan-makan buah yang dihidangkan, maka berkatalah si Mony :
"Tuan, sebagai seorang raja, seyogyanya tuan memiliki seorang permaisuri!" Usul si Mony.
"Permaisuri?" Priyo mengeryitkan dahi.
"Jika Tuan berkenan, kami sudah ada calon permaisuri yang paling cantik di hutan ini!"
"Oh ya? Di sini ada permaisuri cantik? Bawa dia kesini!" Perintah raja Priyo mantap.
Tak lama kemudian, dihadirkanlah seorang permaisuri yang dimaksud. Tampak dari kejauhan berarakan rombongan permaisuri yang diapit oleh sekawanan orang hutan. Dibelakangya puluhan jenis hewan mengaraknya. Tampak benar-benar seperti pengantin. Setelah dekat, Priyo kaget setengah hidup. Rupanya yang dimaksud permaisuri adalah orang hutan betina yang katanya paling cantik se rimba itu. Matanya diucek setengah tidak percaya. Namun sesaat kemudian dia tampak gembira dan tertawa-tawa.
"Haa...ha..ha...! Bagus! Bagus! Aku telah memiliki permaisuri yang cantik sekarang!" Kata Priyo lagaknya seorang raja.
Si Mony dan Romo mengelus dada. Mereka saling berbisik sendiri. "Kok mau ya? Makin gawat nih!" Kata harimau.
"Tentu saja gawat Romo! Jika mereka jadi kawin, seperti apa kira-kira anaknya nanti!" Sahut Mony.
"Pasti anaknya nanti seperti manusia purbakala yang bernama Centhropus erektus atau apalah namanya!"
"Ah, Romo ada-ada saja!"
Sang putri yang menjadi calon permaisuri Raja Priyo yang tak lain orang hutan betina itu, benar-benar duduk disamping raja Priyo. Priyo tersenyum-senyum melihat pengantinnya. Namun sesekali dia tampak terkejut dan cemberut. Di ucek matanya sekali lagi. Tak salah. Lalu sesaat kemudian dia tampak bingung sendiri.
"Maaf panglimaku! Aku hendak pipis dulu!" Kata Raja Priyo beranjak keluar dari istana gua.
Semua binatang yang dilaluinya pada memandangnya penuh tanda tanya.
Setelah jauh dari istana, Priyo benar-benar kencing. Setelah itu batinnya berperang sendiri. "Aku tidak mungkin punya istri orang hutan betina! Tapi....aku kan raja hutan? Jadi pantas jika punya istri orang hutan! Ah mana mungkin!"
Tiba-tiba Priyo ingat sesuatu : "Kenapa aku sampai disini ya?"
Priyo segera beranjak dari hutan itu. Dia sepertinya tahu jalan pulang. Ia lari di antara semak-semak menuju ke utara.
Diam-diam pasukan monyet telah mengikutinya dari kejauhan, memastikan Priyo pergi kemana. Setelah Priyo menuju hutan yang bukan hutan lindung, Priyo makin mantap kemana dia harus pulang. Menjelang sore Priyo sudah sampai keluar hutan. Ia tengah berjalan di tanggul-tanggul tegalan dipinggir hutan.
Pasukan monyet yang telah mengetahui kepastian kemana Priyo pergi, segera kembali ke tengah hutan lindung melaporkan perihal sang raja Priyo.
"Hore...hore, kita menang!" teriak si Mony disambut binatang-binatang lain.
"Kini kita terbebas dari raja manusia. Kita telah memiliki raja hutan yang sesungguhnya!" Kata si Mony sambil menggandeng Romo si Raja Harimau yang tampak gembira ria. Usaha mereka untuk mengusir raja hutan gadungan telah berhasil tanpa melalui kekerasan.
Sementara itu Priyo telah mendekati desa kelahirannya. Biarpun dia compang-camping karena tujuh hari lamanya kelayapan di hutan lindung, banyak warga yang tetap mengenalnya.
"Priyo telah kembali!" Seru seorang warga histeris.
Bagaimanapun juga hilangnya Priyo membuat mereka sedih. Kini Priyo telah kembali walaupun kondisinya sudah tidak utuh lagi..... pakaiannya. Banyak warga yang menyambutnya.
"Priyo, kamu sudah sembuh to!" Kata seorang warga menyambut Priyo.
Priyo hanya diam. Dia tampak berpikir keras, apa yang barusan terjadi? Bukankah dia tadi keluar dari hutan yang jauh? Untunglah para tetangga segera membimbingnya pulang ke rumah. Orang tuanya menyambut kepulangan Priyo dengan sukacita. Anak hilang yang baru pulang itu segera dimandikan dan diganti bajunya. Setelah bersih, Priyo merasakan sesuatu yang berbeda. Ia merasa benar-benar telah mengenal dirinya sendiri.
(Kang Diqin)
AIR YANG TERSESAT JALAN
Aku adalah sosok yang biasa saja. Walaupun biasa tapi sangat luar biasa. Ajaib bahkan. Aku tidak sekedar bisa disentuh oleh tangan manusia, atau dituang di wadah, bahkan aku bisa terbang menguap ke udara lewat panas. Begitulah salah satu keunggulanku sebagai makhluk yang bernama air.
Setelah aku berada di langit yang tinggi bersama kawan-kawanku sesama air, aku bersemayam di mendung dan kemudian terjun bebas ke bumi lagi. Menyelinap di antara pepohonan. Di akar-akar pohon bawah tanah. Aku nyaman di antara pohon-pohon, istirahat di sana beberapa waktu lamanya. Tanaman pun tumbuh subur. Manusia hidup makmur. Keberadaanku sungguh luar biasa. Berjasa terhadap makhluk hidup di bumi.
Suatu hari aku punya keinginan yang berbeda. Tidak hanya berhenti di akar-akar pohon yang teduh. Tidak hanya merembes ke bumi yang lebih dalam, lalu mengalir ke sumur-sumur. Aku ingin terjun ke sungai-sungai hingga ke laut.
“Bagaimana rasanya berkumpul dengan kawan-kawan air yang rasanya asin?” Kataku kepada air lain.
“Wah, itu pengalaman menarik!” Jawab sekawanan air yang lebih pengalaman.
Keinginanku itu menjadi kenyataan. Tidak berapa lama aku diterjunkan dari langit berupa hujan deras yang mengguyur hutan dan pegunungan. Biasanya aku menghambur ceria di dedaunan dan ranting pohon. Aku terjun bebas tanpa hambatan.
Kali ini aku terjerembab di daun dan ranting. Tapi ranting dan daun itu sudah pada berserakan di tanah. Ranting dan daun itu terhanyut. Aku kaget, kenapa mereka ikut saja gerakan kami yang selalu mencari dataran rendah. Bahkan kayu besar pun hanyut juga. Oh, rupanya aku terjun di hutan yang gundul. Aku tidak mengerti mengapa bisa demikian. Padahal yang kuharapkan adalah terjun ke sungai-sungai dan mengalir hingga jauh. Ke laut tentunya.
“Ohoi…. Aku bisa terjun bebas. Pasti cepat sampai di laut nih!” Aku mengira ini sebuah permainan.
Namun aku terkejut setengah mati ketika melewati sebuah kampung.
“Hoi…. Minggir, minggir!” Teriakku pada warga kampung. Aku melihat kepanikan orang-orang di kampung kampung yang aku lalui. Aku tidak hanya mengalir di sungai kecil, selokan atau dataran rendah lainnya. Bahkan aku sudah meluap ke perkampungan segala karena saking banyaknya air.
Akhirnya aku menyeret sebuah dinding rumah yang terbuat dari kayu. Teman airku yang lain bahkan menyeret isinya, ada mebel, almari, bahkan ternak.
“Awas Pak, Awas Bu, Awas Dik……” Aku menerjang manusia, tapi syukurlah mereka tidak terbawa meski ditendang air-air lain yang menyusul di belakangku. Mereka pada saling berpegangan dan akhirnya naik di dataran yang lebih tinggi. Syukurlah.
Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana jika kawan-kawanku yang diterjunkan dari gunung cukup banyak dan bergelombang. Pastilah banyak manusia yang terseret.
Aku melewati sekumpulan anak-anak yang bermain air. Aku menyapa seorang anak yang berkecipuk di depan rumahnya yang hanya sedikit kena air.
“Kenapa kamu malah senang bermain air, padahal rumahmu tergenang. Orang-orang tua pada panik!”
“Asyik. Aku bisa bermain-main air. Airnya banyak sekali!” Jawabnya ala anak-anak.
“Dasar anak. Tapi orang tuamu merugi, karena barang-barangnya kena air. Bahkan ada yang terseret air besar.”
“Oh begitu. Kenapa dengan hutan-hutan di sana? Kenapa kalian tidak di sana saja, dan turun pelan-pelan di bawah tanah?”
“Maafkan kami wahai manusia. Kami biasanya nyaman di sela-sela akar pohon di hutan. Namun kali ini pohon tempat kami bersemayam tidak kami temukan. Hutan pada gundul sehingga kami tergelincir ke kampung kalian!”
“Tergelincir?” Tanya anak-anak yang lain.
“Ya. Aku tidak bisa berpegangan dengan apapun di hutan gundul. Pasti ada orang lain yang merusaknya. Menggundulkannya. Kamu sebagai generasi muda tidak lagi diwarisi pohon, tapi diwarisi bencana oleh mereka.”
“Berarti mereka bedosa ya?”
“Ya pasti. Hanya Tuhan yang akan membalasnya. Mestinya mereka terkena hukuman di dunia oleh penguasa. Yang namanya manusia banyak dosa. Terkadang banyak alasan dan kepentingan pribadi sehingga tidak menghukum mereka.”
“Selamat bermain air. Hati-hati ya. Kawan-kawanku air masih banyak di belakang sana!”
Agar anak-anak itu minggir lebih jauh, sengaja aku menendang mereka dengan gelombang.
“Aih… air yang nakal!” Teriak mereka.
Aku tidak peduli. Yang penting mereka mau pergi jauh, karena nun jauh di gunung sana masih banyak kawan-kawan air yang lebih besar. Aku takut anak-anak ini terseret air dan tidak bisa menyelematkan diri. Aku tertawa riang, karena kulihat anak-anak pada minggir ke dataran tinggi. Orang-orang tua pada menggendong mereka dan dibawa ke tempat yang aman.
Penulis :
Ali Shodiqin
Perum Puri Mondoteko
Jl. Puri III - 42 Rembang Jawa Tengah
Langganan:
Postingan (Atom)
Usia SMA/SMK : 4 Strategi Orang Tua Kuatkan Komunikasi dengan Remaja
SAHABAT KELUARGA- “Ide bahwa anak adalah sumber pasif yang mudah dibentuk oleh orangtua mereka adalah hal yang terlalu dibesar-besarkan...
-
Menganggur setelah menikah tentu bukan pilihan yang bagus. Termasuk Fandi yang istrinya telah hamil. Merasa memiliki tanggungan dan malu kep...
-
Entah bagaimana awalnya, Bos Dewi sudah tidak tertarik dipanggil “bos”. Menurutnya panggilan untuk orang kaya itu sudah usang. Membosankan. ...
-
Bertahun-tahun Said melakukan itu sendirian. Walaupun tanpa ada yang membayar sepeserpun. Sebuah pekerjaan kasar, tukang kebun, memangkas po...

