Borin hanya punya satu obsesi, ia ingin jadi orang yang terpilih di mata Pak Lurah. Ia ingin dipilih jadi menantu, atau jadi pegawai di kantornya.
Segala upaya telah dilakukan. Penampilannya rapi dan menarik. Tutur katanya teratur dan terencana. Yang lebih extrim lagi, Borin suka mengirim oleh-oleh kepada keluarga Pak Lurah.
Apa yang terjadi kemudian? Pak Lurah yang semula ramah, kini menjadi sosok yang cuek. Semakin lama Borin memberi, Pak Lurah semakin menjauh. Bahkan kini Pak Lurah sudah tidak mau menemuinya.
”Pak Lurah, kenapa engkau makin tidak peduli? Aku sudah habis-habisan!”
Tak ada jawaban. Sepucuk surat melayang di rumah Borin.
“Aku tidak akan peduli kamu lagi. Kau telah membeli kepedulianku dengan harta!”
(Ali Shodiqin)
Ini situs CERPEN HEBAT. Sudah cerita pendek, Hemat, hebat lagi! Dari yang sedikit ini diharapkan bisa memberi manfaat kepada semua pembaca.CERPEN HEMAT CERPEN HEBAT, CERPEN HEBAT CERPEN HEMAT, Benar-Benar CERPEN HEBAT.
Senin, 26 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Usia SMA/SMK : 4 Strategi Orang Tua Kuatkan Komunikasi dengan Remaja
SAHABAT KELUARGA- “Ide bahwa anak adalah sumber pasif yang mudah dibentuk oleh orangtua mereka adalah hal yang terlalu dibesar-besarkan...
-
Menganggur setelah menikah tentu bukan pilihan yang bagus. Termasuk Fandi yang istrinya telah hamil. Merasa memiliki tanggungan dan malu kep...
-
Bertahun-tahun Said melakukan itu sendirian. Walaupun tanpa ada yang membayar sepeserpun. Sebuah pekerjaan kasar, tukang kebun, memangkas po...
-
Entah bagaimana awalnya, Bos Dewi sudah tidak tertarik dipanggil “bos”. Menurutnya panggilan untuk orang kaya itu sudah usang. Membosankan. ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar